Hadiah Kasih Sayang
Saya tidak akan pernah melupakan detik-detik menegangkan dalam goresan perjalanan hidup ini. Yakni saat menyambut kedatangan Sang titipan Ilahi
Dini hari Kamis, 8 Desember 2005, sekira pukul 01.00, terdengar tangisan pertama seorang bayi dari RS di Banjarbaru. Bayi itu memang baru lahir. Panjangnya 47 cm dan beratnya 2,5 kg. Namun tangisnya melemah, sehingga harus dirawat dulu di ruang inkubator. Maklum, dia lahir sebelum genap berusia 9 bulan di rahim. Dia lahir prematur. Setelah dirawat 3 hari, bayi itu dapat dibawa pulang.
Dini hari Kamis, 8 Desember 2005, sekira pukul 01.00, terdengar tangisan pertama seorang bayi dari RS di Banjarbaru. Bayi itu memang baru lahir. Panjangnya 47 cm dan beratnya 2,5 kg. Namun tangisnya melemah, sehingga harus dirawat dulu di ruang inkubator. Maklum, dia lahir sebelum genap berusia 9 bulan di rahim. Dia lahir prematur. Setelah dirawat 3 hari, bayi itu dapat dibawa pulang.
Bayi itulah merupakan generasi pertama saya yang kemudian diberi nama Naila Hanun. Maknanya, (semoga) menjadi hadiah dari kasih sayang.
“Kedatangan” Hanun memang seperti tiba-tiba. Sebab, dari perhitungan dokter kandungan yang rutin memeriksa istri saban bulan, anak saya baru lahir antara pertengahan hingga akhir Januari 2006. Istri pun sangat ingin melahirkan di tanah kelahirannya di Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, yang jarak tempuh dari Banjarbaru mencapai 5 jam perjalanan darat. Bahkan, perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi telah lebih dulu dikirimkan ke Tanah Bumbu. Namun ternyata, Naila Hanun enggan berlama-lama di rahim dan ingin segera menatap dunia.
Bukan cuma itu saja, sejak di kandungan, anak saya itu diperkirakan adalah laki-laki. Saat dibawa ke ruang inkubator pun saya tidak sempat menanyakan jenis kelaminnya. Karena itu pula, saat akan mengambil map berkas perawatan bayi di ruang administrasi, saya meminta warna map biru pertanda laki-laki. Namun beberapa saat kemudian, saya harus kembali ke ruangan administrasi tersebut. Saat ingin menyerahkan map itu ke perawat di ruang bayi, dikatakan saya salah map. Harus map merah muda pertanda perempuan.
Dan sekarang, “Hadiah Kasih Sayang” itu tumbuh menjadi bidadari kecil yang selalu berteriak kegirangan setiap saya tiba di rumah sepulang dari kantor.
28, Oktober 2008 pada 3:06 pm
wahini hanum umurnya 2 th lah
habis batamu di gramedia kd pernah lagi meliatnya.
pasti tambah lucu tuh si hanum.
1, November 2008 pada 2:44 pm
mudah-mudahan jadi anak yg berbakti kepada orang tuanya bang…
ulun pernah jua merasakan kaya itu bang’ai apalagi pada saat anak ulun tu minta keluar lewat perut mamanya, menegangkan….