Kematian yang Terlalu Pagi
Judul tulisan ini memang saya jiplak seluruhnya dari cerpen Kematian yang Terlalu Pagi yang ditulis Sandi Firly -www.sfirly.wordpress.com-. Sebab, saya sepertinya baru saja merasakan kematian yang (saya nilai) terlalu pagi.
Saya ini adalah sulung dari dua bersaudara. Tapi kini menjadi anak tunggal. Adik satu-satunya, Gatot Maulana lebih dulu kembali ke Rahmatullah pada hari Minggu, 27 April 2008 di salah satu RS swasta di Banjarmasin, pada pukul 06.15.
Bagi saya, sungguh kematian (itu) terlalu pagi pada saat dia telah mempersiapkan ultah ke-19 pada tanggal 24 Mei 2008. Bahkan di kalender di handphonenya, dia telah menulis catatan pada tanggal tersebut. Ultah yang ke-19, tulisnya pendek. Namun tenyata kematian lebih pagi menjemputnya.
Bagi saya, kepergian Gatot Maulana itu terlalu pagi. Dia memiliki cita-cita dan sebagai kakaknya, saya pun sempat menitip segudang harapan. Terlalu pagi sehingga dia tidak dapat menggapainya.
Sebagai seorang yang memiliki hobi bermain basket sejak SMP ini, dia sangat ingin menjadi atlet profesional. Sebagai mahasiswa semester 2 Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil Unlam, dia ingin memiliki profesi seperti bapak kami yang juga telah meninggal dunia pada tahun 2000.
Tapi itu tadi, kematian yang terlalu pagi. 
***
Semuanya bergerak sangat cepat. Dari ada, tiba-tiba menjadi tiada. Kamis malam itu (24/04), dia saya bawa ke dokter umum. Tensi darahnya memang rendah dan kondisi tubuhnya terlihat lemah. Dokter itu pun memberi obat rawat jalan saja. Keesokan harinya, tiba-tiba almarhum bersendawa yang tiada henti sehingga menyulitkan makan dan berkomunikasi. Namun siang itu dia sempat saja bercanda dengan rekan-rekan yang membesuknya.
Malam harinya, kondisinya semakin lemah dan sendawanya tidak hilang-hilang, sehingga pada Sabtu (26/04) dini hari dia saya bawa ke salah satu RS di Banjarbaru. Kemudian sekira pukul 03.00, kesadaran Gatot yang memiliki nomor sepatu 46, nomor celana 38 dan baju selalu XXL, tersebut semakin berkurang. Bicaranya terkadang ngelantur. Dan Sabtu pagi diagnosa dokter hanya menderita penyakit typus saja.
Baru pada Sabtu pukul 19.00, disimpulkan dia menderita penyakit hepatitis akut fulminan, sebuah nama penyakit yang terdengar sangat asing di telinga saya. Tak alang-alang, sudah divonis dalam kondisi kritis. Langsung saja, Gatot dibawa ke salah satu RS swasta di Banjarmasin pada Minggu dini hari.
Namun Sang Pemilik memiliki rencana terbaik lainnya. Pagi itu, sayup-sayup istigfar Salat Subuh masih saja terdengar dari musalla yang berada tidak jauh dari RS, dan pagi itu pula, Gatot berpulang untuk selama-lamanya.
Hari itu pula, seakan alam turut bersedih sehingga matahari bersinar tak terlalu terik, diantar kawan, kerabat dan keluarga dan tentu saja saya bersama orang-orang yang menyayanginya, Gatot Maulana dikembalikan ke tanah, tempat kembali Makhluk Ilahi.
Selesai proses pemakanan, alam tak kuasa menahan sedihnya. Hujan lebat langsung mengguyur membasahi bumi. Semoga itu hujan rahmat.
***
Kematian. Siapa pun pasti memahami bahwa kematian adalah satu dari 3 ketetapan Sang Maha Agung. Sama seperti jodoh dan rezeki, berapa lama jumlah umur yang akan kita jalani, merupakan rahasia terbesar yang tak akan dapat ditebak.
Kata orang, sebelum meninggal dunia, maka selalu saja ada firasat atau tanda-tanda. Hanya saja, biasanya, tanda atau firasat itu baru akan terbaca setelah kematian lebih dulu menjemput manusia.
Kita pun sangat meyakini berasal dari Sang Maha Pencipta dan kelak akan kembali kepada-Nya. Saat kembali, sama sekali tidak bisa ditunda atau dimajukan, meski hanya sedetik. Kita pun tidak dapat memilih bagaimana cara kita kembali. Semua itu rahasia.
Namun sebagaimana iman manusia “awam” yang terkadang naik turun. Dan sebagai manusia, kita pun terkadang tidak bisa menguasai hati ini. Tak bisa menguasai kesedihan ini. Sedih dan sedih. Namun sebagai makhluk beragama, kita harus menerima ketetapan tersebut.
Memang, untuk kematian, sama sekali tidak istilah terlalu pagi, siang, sore atau malam. Semua dapat terjadi kapan saja. Sebab, “Setiap makhluk yang bernyawa pasti mati (QS Ali Imran: 185)”
(Tulisan ini sebagai kenangan sekaligus kerinduan untuk Alm Gatot Maulana. Jika setiap mengenang itu bagian dari do’a maka saya harap, tulisan ini pun merupakan untaian doa yang terus mengalir. Amin)
23, Oktober 2008 pada 3:12 am
Allâhummagh firlahu, warhamhu, wa ‘âfihi wa’ fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wawassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil mâ’i watstsalji wal baradi, wanaqqihi minal khathâyâ kamâ naqqaitats tsaubal abyadha minaddanasi. Wabdilhu dâran khairan min dârihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wadkhilhul jannah, wa’dzihi min ‘adzâbil qabri wa min adzâbin nâr.
“Ya Allah ampunilah dia, sayangilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat singgahnya, luaskan tempat masuknya, mandikanlah dengan air salju dan es. Hapuskanlah kesalahannya, sebagaimana bersihnya baju putih dari kotoran, gantikanlah dengan tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarga di dunia, pasangan yang lebih baik dari pasangannya di dunia, masukkan dia ke dalam jannah, lindungi dia dari adzab kubur dan dari adzab api neraka.”
be brave, mas Anto.
28, Oktober 2008 pada 3:09 pm
maafkan kak kd sempat melayat walau pagi itu sdh di kabari. Mudahan gatot di beri kelapangan disana, di gembirakan hatinya dan tercatat mejadi penghuni surga Allah kelak.
Amin